Latest Tweets:

Sewon Calling !

Sewon Calling !

afterrain

afterrain

*1
ISI BASKETBALL TOGETHER

ISI BASKETBALL TOGETHER

Map Of Yogyakarta
Malu bertanya, sesat dijalan… Jangan malu untuk membeli peta, agar selamat sampai tujuan :D

Map Of Yogyakarta

Malu bertanya, sesat dijalan… Jangan malu untuk membeli peta, agar selamat sampai tujuan :D

Alun-alun Kidul Yogyakarta
DESKRIPSI
A.      Profile
Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang). Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton. 
Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Luas Alun-alun Kidul sendiri 100x100 meter.
Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang ( harfiah = capit udang ) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok ( dari kata bewok, harfiaf = jenggot ). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah.
Siti Hinggil yaitu tanah yang tinggi, siti : tanah dan hinggil : tinggi. Siti Hinggil Kidul atau yang sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad terletak di sebelah utara alun-alun Kidul. Luas kompleks Siti Hinggil Kidul kurang lebih 500 meter persegi. Permukaan tanah pada bangunan ini ditinggikan sekitar 150 cm dari permukaan tanah di sekitarnya. Sisi timur-utara-barat dari kompleks ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Pamengkang, tempat orang berlalu lalang setiap hari. Dahulu di tengah Siti Hinggil terdapat pendapa sederhana yang kemudian dipugar pada 1956 menjadi sebuah Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad sebagai tanda peringatan 200 tahun kota Yogyakarta.
Siti Hinggil Kidul digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk menyaksikan para prajurit keraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan, Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, cara keagamaan dan sebagainya. 
Disebelah utara alun-alun kidul terdapat sebuah trateg, sebuah tempat berteduh, beratap anyam-anyaman bambu dan kanan kirinya ditanami pohon-pohon gayam. Kanan kiri Sitihinggil ada 2 buah jalan yang bertemu satu sama lainnya di Regol Kemandungan, sebelah utara sitiginggil ini dahulu terdapat sebuah bangunan berbentuk pendopo, ditengah-tengah ada selogilangnya, tempat duduk sri sultan. Halaman Sitihinggil ditanami pohon “Soka” dan pohon “Palem Cempora”. Bungan pohon-pohon ini rupanya bagus sekali, berambut halus, berkumpul dalam satu tangkai bunga. Rupanya merah dan putih. Kalau Sri Sultan duduk diatas selogilang tengah-tengah pendopo sitihinggil ini, baginda selalu dihadap kerabat kraton dan abdi-abdi dalem lainnya, pria wanita, banyak sekali.
Di ujung selatan jalan kecil di selatan kompleks Kamagangan terdapat sebuah gerbang, Regol Gadhung Mlati, yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan kompleks Kamandhungan Kidul/selatan. Dinding penyekat gerbang ini memiliki ornamen yang sama dengan dinding penyekat gerbang Kamagangan. Di kompleks Kamandhungan Kidul terdapat bangunan utama Bangsal Kamandhungan. Bangsal ini konon berasal dari pendapa desa Pandak Karang Nangka di daerah Sokawati yang pernah menjadi tempat Sri Sultan Hamengkubuwono I bermarkas saat perang tahta III. Di sisi selatan Kamandhungan Kidul terdapat sebuah gerbang, Regol Kamandungan, yang menjadi pintu paling selatan dari kompleks cepuri. Di antara kompleks Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang disebut dengan Pamengkang.
Pada  halaman Kemandungan lewat melalui Regol Kemandungan. Halaman ini ditanami oleh pohon-pohon kepel, Cengkir Gading, dan Pelem. Dua buah jalan ke kanan dan ke kiri menghubungkan halaman ini dengan dunia luar. Namun pohon tersebut sekarang sudah yidak ditanam lagi, dan menurut warga sekitar pohon-pohon tersebut hanya ditanam disekitar Taman Sari.
Kemudian pada Regol Gadungmlati sampailah dihalaman “Kemagangan”. Terdapat gerbang yang dimana gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.
Dahulu kompleks Kemagangan digunakan untuk penerimaan calon pegawai (abdi-Dalem Magang), tempat berlatih dan ujian serta apel kesetiaan para abdi-Dalem magang. Bangsal Magangan yang terletak di tengah halaman besar digunakan sebagai tempat upacara Bedhol Songsong, pertunjukan wayang kulit yang menandai selesainya seluruh prosesi ritual di Keraton. Bangunan Pawon Ageng (dapur istana) Sekul Langgen berada di sisi timur dan Pawon Ageng Gebulen berada di sisi barat. Kedua nama tersebut mengacu pada jenis masakan nasi Langgi dan nasi Gebuli. Di sudut tenggara dan barat daya terdapat Panti Pareden. Kedua tempat ini digunakan untuk membuat Pareden/Gunungan pada saat menjelang Upacara Garebeg. Di sisi timur dan barat terdapat gapura yang masing-masing merupakan pintu ke jalan Suryoputran dan jalan Magangan.
Di sisi selatan halaman besar terdapat sebuah jalan yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan Regol Gadhung Mlati. Dahulu di bagian pertengahan terdapat jembatan gantung yang melintasi kanal Taman sari yang menghubungkan dua danau buatan di barat dan timur kompleks Taman Sari. Di sebelah barat tempat ini terdapat dermaga kecil yang digunakan oleh Sultan untuk berperahu melintasi kanal dan berkunjung ke Taman Sari.
 
ANALISIS
A.      Aspek Sejarah
Di masa kerajaan Mataram, Alun-alun Kidul berfungsi untuk menyiapkan suatu kondisi yang menunjang kelancaran hubungan antara keraton dengan dunia luar. Alun-alun Kidul juga melambangkan kesatuan kekuasaan yang sakral antara raja dan para bangsawan yang tinggal di sekitar alun-alun. Sedangkan Alun-alun Lor berfungsi untuk menyediakan persyaratan bagi berlangsungnya kekuasaan raja.
Alun-alun Kidul ini merupakan bagian belakang Kraton Yogyakarta. Menurut sejarahnya, alun-alun Kidul dibuat untuk mengubah suasana bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan karena Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan laut Selatan Pulau Jawa jika ditarik dalam satu garis imajiner akan membentuk satu garis lurus. Agar posisi Kraton Yogyakarta tidak seperti membelakangi laut Selatan, maka dibangunlah Alun-alun Selatan.
Masih di dalam kompleks Alun-alun Kidul, terdapat bangunan Sasana Hinggil yang pada zaman dahulu menjadi tempat bagi raja untuk menyaksikan adu manusia dengan harimau yang disebut rampog macan.
 
B.       Aspek Makna (Icon, Index & Symbol)
Di alun-alun selatan terdapat 2 pohon beringin bernama “WOK”, WOK berasal dari kata “BEWOK”. Dua ditengah-tengah alun-alun menggambarkan bagian badan kita yang rahasia sekali, maka dari itu diberi pagar batu bata.
Jumlahnya yaitu 2 menunjukkan laki-laki, namanya yaitu “Supit Urang” menunjukkan perempuan. Lima buah jalan raya yang bertemu satu sama lainnya disni menggambarkan panca indra kita. Tanah berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lainnya. Apa yang kita tenggap dengan panca indra kita belum teratur. Nanti kalau ada perhatian barulah teratur.
Keliling alun-alun ditanami pohon Kweni dan Pakel, artinya sang anak sudah wani (berani) karena sudah “akil baligh”.
Sitihinggil, disini ada sebuah trateg atau tempat istirahat beratap anyaman bambu. Kanan-kiri tumbuh pohon-pohon gayam dengan daun-daunnya yang rindang serta bunga-bunganya yang harum wangi. Siapa saja yang berteduh dibawah tratag itu akan merasa aman, tentram, senang dan bahagia. Menggambarkan rasa pemuda-pemudi yang sedang dirindu cinta asmara.
Ditengah-tengah Sitihinggil dahulu ada pendoponya dan ditengah-tengah lantai ada selo-gilangnya, tempat singgasana Sri Sultan. Kanan-kiri tempat duduk kerabat keratin dan abdi dalem lain-lainnya, pria wanita berkumpul menghormat Sri Sultan. Menggambarkan pemuda-pemudi duduk bersanding dikursi temanten. Pohon-pohon yang ditanam disini ialah pohon Mangga Cempora serta Soka. Kedua pohon ini mempunyai bunga yang halus panjang berkumpul menjadi satu, ada yang merah ada yang putih, gambaran bercampurnya benih manusia laki-laki dan perempuan.
Kanan kiri pendopo Sitihinggil, didalam sebelah timur dan barat ada kamar mandinya. Sitihinggil ini dilingkari oleh sebuah jalan, Pamengkang namanya. Mekangkang adalah keadaan kaki kita, kalau terletak sedikit jauh satu sama lainnya.
Kemudian Kemandungan, pohon yang ditanami disini ialah Pohon Kepel, Pelem (mangga), Cengkir Gading serta Jambu Dersono. Menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu, Photon Pelem menggambarkan pada gelam, atas kemauan bersama. Jambu Dersono dari kadersan sing ing sesama. Menggambarkan karena diliputi oleh kasih sayang satu sama lain. Pohn Kkepel dari perkataan kempel atau kempal, menggambarnya bersatunya kemauan, bersatunya benih, bersatunya rasa, bersatunya cita-cita. Cengkir Gading adalah sejenis pohon kelapa dan kecil bentuknya. Dipakai pada upacara “minoti” yaitu memperingati Sang Bayi sudah tujuh bulan dikandungan. Jalan kecil dari sini ke kanan dan ke kiri menggambarkan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat menganggu pertumbuhan Sang Bayi.
Kemudian Kemagangan, jalan disini menyempit (dibuat sempit) kemudian melebar da terang benderang. Suatu gambaran anatomis yang tepat sekali.
Menggambarkan sang bayi telah lahir dengan selamat menjadi magang (calon) manusia. Kepadanya telah tersedia makanan yang telah cukup , digambarkannya dengan dapur kraton Gebulan dan Sekullanggen. Jalan besar kanan-kiri Kemagangan juga menggambarkan pengaruh negatif atau positif dari perkembangan sang anak. Hendaknya Sang Anak dididik mengarahkan cit-citanya lurus ke utara, ke kraton, tempat bersemayam Sri Sultan. Disini ia dapat mencapai yang dicita-citakannya, asal mau bekerja dengan baik, patuh terhadap peraturan-peraturan, setia dan selalu ingat dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Semua ini digambarkan oleh apa yang kita lihat dikraton sampai sekarang ini.
C.       Aspek Psikologi
Jika dilihat dari aspek ini maka dapat dibagi menjadi 2 bagian, yakni Alkid masa lampau dengan Alkid masa kini.
Alkid Masa Lampau, masyarakat cenderung menggunakan Alkid sebagai tempat ritual maupun hal-hal yang berhubungan dengan spiritual, karena memang pada dasarnya objek-objek yang berada pada Alkid sendiri memiliki filosofi-filosofi tersendiri yang sebagaimana dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yang memiliki nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, nerlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam bertingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain.
Alkid Masa Kini, masyarakat umumnya menggunakan Alkid sebagai media rekreasi bersama keluarga ataupun bersama kekasih, karena banyaknya tawaran yang ditawarkan oleh Alkid ini sendiri kepada masyarakat, seperti jajanan kuliner, acara musik dan pertunjukan serta lain-lainnya dikarenakan Alkid sendiri telah kehilangan filosofinya tersebut dimata masyarakat itu sendiri, bahkan mengalami perubahan makna atau filosofi.
 
INTERPRETASI
Saat ini Alkid menjadi sebuah ruang publik bagi masyarakat luas Yogyakarta, bahkan bukan dari warga Yogyakarta sendiri yang datang guna menikmati suasana disini ada pula warga dari luar Yogyakarta seperti Solo, Semarang, dll yang sengaja datang ke Alkid untuk bersantai bersama keluarga menghabiskan weekend bersama keluarga (karena biasanya pengunjung dari luar kota Yogyakarta berkunjung ke Alkid pada weekend). Berbagai macam kegiatan dapat dijumpai di Alkid Menjelang sore hingga malam hari, Alkid menjelma sebuah tempat rekreasi publik untuk rakyat yang tentunya sayang untuk dilewatkan.
Berbagai makanan jajanan kuliner dihadirkan oleh para pedagang dan dapat dijumpai di Alkid.  Pada pagi harinya Alkid menjadi area olahraga yang diminati oleh masyarakat Yogyakarta serta dijadikan area olahraga dari beberapa institusi pendidikan tingkat SD sampai SMA. Selain itu, pada malam harinya area Alkid ini juga menjadi area wisata untuk semua kalangan dan ada beberapa fasilitas yang dapat menghibur pengunjung yang memang sengaja dihadirkan oleh para pedagang seperti wisata bersepeda, berjajar sepeda tandem hingga becak yang telah dimodifikasi hingga sedemikian rupa dengan hiasan lampu kelap kelip yang mencolok disewakan oleh sejumlah pemilik sewa sepeda. 
Di sekeliling Alkid pun sudak tidak ditanami pohon Kweni dan Pakel, hanya ditanami pohon mangga, menurut warga sekitar phon Kweni dan Pakel sudah tidak ditanam semenjak 15-an tahun yang lalu. Kemudian area tanah luas diAlkid sendiri telah menjadi tempat beriklan mengatasnamakan sosial namun tetap saja menawarkan produk yang diiklankan tersebut melalui media acara tersebut, acara yang biasanya diisi dengan berbagai pertunjukan dan lain-lain.
Selanjutnya gedung Sasono Hinggil sering digunakan untuk berbagai acara maupun kegiatan baik umum maupun acara keagamaan.
Pada bagian tengah alun-alun terdapat dua buah pohon beringin yang usianya cukup tua dan keduanya dibatasi oleh pagar benteng yang kokoh. Pohon Beringin ini pun menjadi sebuah obyek permainan yang menarik. Berawal dari kepercayaan masyarakat Yogyakarta tentang orang yang berhasil melewati kedua Pohon Beringin tersebut dengan menutup mata, maka akan dipermudah dalam meraih cita-citanya, maka saat ini banyak wisatawan yang menyempatkan waktu untuk berkunjung mencoba permainan tersebut.
Terdapat kandang gajah di Alun-alun Kidul. Gajah yang berada di dalam kandang ini adalah milik Kraton Yogyakarta. Dahulu gajah ini sering dinaiki oleh anak-anak sebagai sarana hiburan. Tetapi saat ini hiburan ini memang sudah berkurang walaupun istilah kandang gajah masih cukup familiar di telinga masyarakat.
Didalam kawasan Alkid ini sendiri pun banyak objek-objek bersejarah dan berfilosofi yang telah hilang karena tidak dilestarikan dengan baik oleh warga sekitar, seperti Pohon Kweni, Pohon Pakel, Pohon Soka, Pohon Palem Cempora, Pohon Pelem, Pohon Kepel, Pohon Cengkir Gading serta 2 Pohon beringin WOK yang sudah hilang satu yang berada digerbang pintu selatan Alkid.
Letak Alun-alun Kidul yang berada di wilayah selatan Kraton Yogyakarta memudahkan wisatawan untuk berkunjung. Pangunjung hanya perlu menemukan Kraton Yogyakarta dan mengikuti jalan ke arah selatan, maka pengunjung akan langsung menemukan alun-alun Selatan Yogyakarta.
Kebanyakan orang sekarang pun menggunakan Alkid sebatas ruang publik yang dapat dengan bebas digunakan untuk keperluan sehari-sehari mereka, seperti berdagang, beriklan, berpromosi, berolah raga dan sebagainya. Adapun suasana dihari kerja maupun weekend, dihari kerja pun Alkid ramai dikunjungi pangunjung / masyarakat sekitar, dari yang iseng berkunjung maupun berwisata edukasi dikawasan Alkid ini, meskipun kebanyakan pngunjung yang datang keAlkid ini biasanya hanya datang untuk menikmati suasana Alkid saja, dan biasanya Alkid sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung pada malam hari, dan puncak keramaiannya adalah pada saat malam weekend, terutama malam minggu, pengunjung / masyarakat sangat asyik menikmati rekreasi Alkid pada malam hari itu.
Perubahan Arti
Teori : Perubahan arti terjadi bila tanda-tanda dianggap tidak sesuai lagi oleh orang-orang yang menggunakan dalam cara yang berbeda
Alkid telah mengalami perubahan arti dari segi filosofinya dari para masyarakat Yogyakarta sendiri dan dari para pengunjung, yang menyebabkan kawasan ini banyak disalah gunakan oleh para pengunjung itu sendiri, bahkan pengunjung yang berasal dari kota Yogyakarta ini sendiri tidak mengetahui arti dan filosofi kawasan ini sendiri apalagi para pngunjung yang berasal sari luar kota Yogyakarta, mereka hanya mengikuti tradisi yang dilakukan oleh warga kota Yogyakarta pada umumnya tanda mencari atau mempelajari terlebih dulu tentang Alkid ini sendiri.
Alkid memiliki filosofi-filosofi tersendiri yang sebagaimana dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yang memiliki nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, nerlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam bertingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Namun pada nyatanya sekarang Alkid dijadikan tempat mungkin bertolak belakang dengan apa yang dinasehatkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 kepada para pengunjung.
Adapun Symbol baru yang dijadikan oleh masyarakat Yogyakarta, yang tidak ada pada sejarah, yakni kepercayaan masyarakat Yogyakarta tentang orang yang berhasil melewati kedua Pohon Beringin tersebut dengan menutup mata, maka akan dipermudah dalam meraih cita-citanya, dan berjodoh dengan kekasihnya kelak, kepercayaan ini terus berkembang hingga menarik perhatian wisatawan, padahal Sri Sultan Hamengku Buwono 1 membangun kedua pohon beringin itu tidak untuk tujuan tersebut, memang ada cerita sendiri dalam sejarahnya tentang kepercayaan tersebut, yakni, Dahulu kala ketika sultan hamengkubuwono pertama bertahta, ada sebuah cerita tentang sebuah perkawinan. Putrinya sang sultan itu mau dipinang seorang lelaki, namun sayang sang putri tidak begitu menyukainya. Alhasil sang putri meminta syarat: Jika pengen si pria menikahinya, maka dia harus bisa berjalan dengan mata ditutup (tertutup) dari pendopo yang ada di sebelah utara Alkid melewati dua ringin kembar ditengah alun alun dan finish di pendopo yang ada di sebelah selatan alun alun kidul tersebuh. Dan ternyata siasat sang putri ini berhasil, si pemuda gagal menjalankan misinya.
Kemudian sang sultan memberikan sabdanya bahwa yang bisa melewati syarat sang putri itu, hanyalah pemuda yang hatinya benar benar bersih dan tulus.
Saya tidak mendengar cerita apakah dikemudian hari banyak pemuda yang berusaha melewati pohon beringin kembar itu atau tidak. Yang saya dengar hanyalah bahwa ternyata seorang pemuda dari Siliwangi (katanya anak dari prabu siliwangi) berhasil melewati rintangan yang disyaratkan oleh sang putri. Dan sang putri akhirnya dipersunting oleh pemuda tersebut.
Begitulah menurut cerita, namun pada dasarnya kedua pohon beringin kembar tersebut tidak untuk tujuan tersebut, itu hanyalah kepercayaan baru setelah terbangunnya segala bangunan dikawasan Kraton.
Symbol-symbol kepercayaan zaman dahulu seperti diacuhkan oleh para pengunjung saat ini, sepertinya yang diinginkan dari para pengunjung tersebut adalah sebuah hiburan tanpa melihat nilai-nilai sejarah yang memiliki nilai kependidikan tersendiri serta nasehat Sri Sultan Hamengku Buwono 1 itu sendiri dari  dari tempat wisata ini sendiri (Alkid). Bahkan warga sekitar Alkid ini pun seperti enggan melestarikan apa-apa yang menjadi sejarah didalam Alkid ini sendiri, karena terbukti banyak objek-objek bersejarah di Alkid yang tidak dilestarikan dengan baik, bahkan untuk tahu akan sejarah dari obejek itu sendiri saja banyak warga sekitar Alkid tidak tahu apa-apa tentang sejarah / filosofinya tersebut
 
 
Daftar Pustaka :
http://gudeg.net/id/directory/12/1528/Alun-alun-Selatan-Yogyakarta.html
http://www.wisatanesia.com/2010/05/alun-alun-kidul-yogyakarta.html
http://haqiqie.wordpress.com/2009/11/10/cerita-pohon-beringin-ringin-kembar-alun-alun-kidul-kraton-yogyakarta/
Arti Kraton Yogyakarta, Museum Kraton Yogyakarta, 
Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Fredy Heryanto
Pengantar Semiotika - Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, ARTHUR ASA BERGER
 

Alun-alun Kidul Yogyakarta

DESKRIPSI

A.      Profile

Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang). Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton.

Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Luas Alun-alun Kidul sendiri 100x100 meter.

Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang ( harfiah = capit udang ) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok ( dari kata bewok, harfiaf = jenggot ). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah.

Siti Hinggil yaitu tanah yang tinggi, siti : tanah dan hinggil : tinggi. Siti Hinggil Kidul atau yang sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad terletak di sebelah utara alun-alun Kidul. Luas kompleks Siti Hinggil Kidul kurang lebih 500 meter persegi. Permukaan tanah pada bangunan ini ditinggikan sekitar 150 cm dari permukaan tanah di sekitarnya. Sisi timur-utara-barat dari kompleks ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Pamengkang, tempat orang berlalu lalang setiap hari. Dahulu di tengah Siti Hinggil terdapat pendapa sederhana yang kemudian dipugar pada 1956 menjadi sebuah Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad sebagai tanda peringatan 200 tahun kota Yogyakarta.

Siti Hinggil Kidul digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk menyaksikan para prajurit keraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan, Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, cara keagamaan dan sebagainya.

Disebelah utara alun-alun kidul terdapat sebuah trateg, sebuah tempat berteduh, beratap anyam-anyaman bambu dan kanan kirinya ditanami pohon-pohon gayam. Kanan kiri Sitihinggil ada 2 buah jalan yang bertemu satu sama lainnya di Regol Kemandungan, sebelah utara sitiginggil ini dahulu terdapat sebuah bangunan berbentuk pendopo, ditengah-tengah ada selogilangnya, tempat duduk sri sultan. Halaman Sitihinggil ditanami pohon “Soka” dan pohon “Palem Cempora”. Bungan pohon-pohon ini rupanya bagus sekali, berambut halus, berkumpul dalam satu tangkai bunga. Rupanya merah dan putih. Kalau Sri Sultan duduk diatas selogilang tengah-tengah pendopo sitihinggil ini, baginda selalu dihadap kerabat kraton dan abdi-abdi dalem lainnya, pria wanita, banyak sekali.

Di ujung selatan jalan kecil di selatan kompleks Kamagangan terdapat sebuah gerbang, Regol Gadhung Mlati, yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan kompleks Kamandhungan Kidul/selatan. Dinding penyekat gerbang ini memiliki ornamen yang sama dengan dinding penyekat gerbang Kamagangan. Di kompleks Kamandhungan Kidul terdapat bangunan utama Bangsal Kamandhungan. Bangsal ini konon berasal dari pendapa desa Pandak Karang Nangka di daerah Sokawati yang pernah menjadi tempat Sri Sultan Hamengkubuwono I bermarkas saat perang tahta III. Di sisi selatan Kamandhungan Kidul terdapat sebuah gerbang, Regol Kamandungan, yang menjadi pintu paling selatan dari kompleks cepuri. Di antara kompleks Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang disebut dengan Pamengkang.

Pada  halaman Kemandungan lewat melalui Regol Kemandungan. Halaman ini ditanami oleh pohon-pohon kepel, Cengkir Gading, dan Pelem. Dua buah jalan ke kanan dan ke kiri menghubungkan halaman ini dengan dunia luar. Namun pohon tersebut sekarang sudah yidak ditanam lagi, dan menurut warga sekitar pohon-pohon tersebut hanya ditanam disekitar Taman Sari.

Kemudian pada Regol Gadungmlati sampailah dihalaman “Kemagangan”. Terdapat gerbang yang dimana gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.

Dahulu kompleks Kemagangan digunakan untuk penerimaan calon pegawai (abdi-Dalem Magang), tempat berlatih dan ujian serta apel kesetiaan para abdi-Dalem magang. Bangsal Magangan yang terletak di tengah halaman besar digunakan sebagai tempat upacara Bedhol Songsong, pertunjukan wayang kulit yang menandai selesainya seluruh prosesi ritual di Keraton. Bangunan Pawon Ageng (dapur istana) Sekul Langgen berada di sisi timur dan Pawon Ageng Gebulen berada di sisi barat. Kedua nama tersebut mengacu pada jenis masakan nasi Langgi dan nasi Gebuli. Di sudut tenggara dan barat daya terdapat Panti Pareden. Kedua tempat ini digunakan untuk membuat Pareden/Gunungan pada saat menjelang Upacara Garebeg. Di sisi timur dan barat terdapat gapura yang masing-masing merupakan pintu ke jalan Suryoputran dan jalan Magangan.

Di sisi selatan halaman besar terdapat sebuah jalan yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan Regol Gadhung Mlati. Dahulu di bagian pertengahan terdapat jembatan gantung yang melintasi kanal Taman sari yang menghubungkan dua danau buatan di barat dan timur kompleks Taman Sari. Di sebelah barat tempat ini terdapat dermaga kecil yang digunakan oleh Sultan untuk berperahu melintasi kanal dan berkunjung ke Taman Sari.

 

ANALISIS

A.      Aspek Sejarah

Di masa kerajaan Mataram, Alun-alun Kidul berfungsi untuk menyiapkan suatu kondisi yang menunjang kelancaran hubungan antara keraton dengan dunia luar. Alun-alun Kidul juga melambangkan kesatuan kekuasaan yang sakral antara raja dan para bangsawan yang tinggal di sekitar alun-alun. Sedangkan Alun-alun Lor berfungsi untuk menyediakan persyaratan bagi berlangsungnya kekuasaan raja.

Alun-alun Kidul ini merupakan bagian belakang Kraton Yogyakarta. Menurut sejarahnya, alun-alun Kidul dibuat untuk mengubah suasana bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan karena Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan laut Selatan Pulau Jawa jika ditarik dalam satu garis imajiner akan membentuk satu garis lurus. Agar posisi Kraton Yogyakarta tidak seperti membelakangi laut Selatan, maka dibangunlah Alun-alun Selatan.

Masih di dalam kompleks Alun-alun Kidul, terdapat bangunan Sasana Hinggil yang pada zaman dahulu menjadi tempat bagi raja untuk menyaksikan adu manusia dengan harimau yang disebut rampog macan.

 

B.       Aspek Makna (Icon, Index & Symbol)

Di alun-alun selatan terdapat 2 pohon beringin bernama “WOK”, WOK berasal dari kata “BEWOK”. Dua ditengah-tengah alun-alun menggambarkan bagian badan kita yang rahasia sekali, maka dari itu diberi pagar batu bata.

Jumlahnya yaitu 2 menunjukkan laki-laki, namanya yaitu “Supit Urang” menunjukkan perempuan. Lima buah jalan raya yang bertemu satu sama lainnya disni menggambarkan panca indra kita. Tanah berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lainnya. Apa yang kita tenggap dengan panca indra kita belum teratur. Nanti kalau ada perhatian barulah teratur.

Keliling alun-alun ditanami pohon Kweni dan Pakel, artinya sang anak sudah wani (berani) karena sudah “akil baligh”.

Sitihinggil, disini ada sebuah trateg atau tempat istirahat beratap anyaman bambu. Kanan-kiri tumbuh pohon-pohon gayam dengan daun-daunnya yang rindang serta bunga-bunganya yang harum wangi. Siapa saja yang berteduh dibawah tratag itu akan merasa aman, tentram, senang dan bahagia. Menggambarkan rasa pemuda-pemudi yang sedang dirindu cinta asmara.

Ditengah-tengah Sitihinggil dahulu ada pendoponya dan ditengah-tengah lantai ada selo-gilangnya, tempat singgasana Sri Sultan. Kanan-kiri tempat duduk kerabat keratin dan abdi dalem lain-lainnya, pria wanita berkumpul menghormat Sri Sultan. Menggambarkan pemuda-pemudi duduk bersanding dikursi temanten. Pohon-pohon yang ditanam disini ialah pohon Mangga Cempora serta Soka. Kedua pohon ini mempunyai bunga yang halus panjang berkumpul menjadi satu, ada yang merah ada yang putih, gambaran bercampurnya benih manusia laki-laki dan perempuan.

Kanan kiri pendopo Sitihinggil, didalam sebelah timur dan barat ada kamar mandinya. Sitihinggil ini dilingkari oleh sebuah jalan, Pamengkang namanya. Mekangkang adalah keadaan kaki kita, kalau terletak sedikit jauh satu sama lainnya.

Kemudian Kemandungan, pohon yang ditanami disini ialah Pohon Kepel, Pelem (mangga), Cengkir Gading serta Jambu Dersono. Menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu, Photon Pelem menggambarkan pada gelam, atas kemauan bersama. Jambu Dersono dari kadersan sing ing sesama. Menggambarkan karena diliputi oleh kasih sayang satu sama lain. Pohn Kkepel dari perkataan kempel atau kempal, menggambarnya bersatunya kemauan, bersatunya benih, bersatunya rasa, bersatunya cita-cita. Cengkir Gading adalah sejenis pohon kelapa dan kecil bentuknya. Dipakai pada upacara “minoti” yaitu memperingati Sang Bayi sudah tujuh bulan dikandungan. Jalan kecil dari sini ke kanan dan ke kiri menggambarkan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat menganggu pertumbuhan Sang Bayi.

Kemudian Kemagangan, jalan disini menyempit (dibuat sempit) kemudian melebar da terang benderang. Suatu gambaran anatomis yang tepat sekali.

Menggambarkan sang bayi telah lahir dengan selamat menjadi magang (calon) manusia. Kepadanya telah tersedia makanan yang telah cukup , digambarkannya dengan dapur kraton Gebulan dan Sekullanggen. Jalan besar kanan-kiri Kemagangan juga menggambarkan pengaruh negatif atau positif dari perkembangan sang anak. Hendaknya Sang Anak dididik mengarahkan cit-citanya lurus ke utara, ke kraton, tempat bersemayam Sri Sultan. Disini ia dapat mencapai yang dicita-citakannya, asal mau bekerja dengan baik, patuh terhadap peraturan-peraturan, setia dan selalu ingat dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Semua ini digambarkan oleh apa yang kita lihat dikraton sampai sekarang ini.

C.       Aspek Psikologi

Jika dilihat dari aspek ini maka dapat dibagi menjadi 2 bagian, yakni Alkid masa lampau dengan Alkid masa kini.

Alkid Masa Lampau, masyarakat cenderung menggunakan Alkid sebagai tempat ritual maupun hal-hal yang berhubungan dengan spiritual, karena memang pada dasarnya objek-objek yang berada pada Alkid sendiri memiliki filosofi-filosofi tersendiri yang sebagaimana dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yang memiliki nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, nerlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam bertingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain.

Alkid Masa Kini, masyarakat umumnya menggunakan Alkid sebagai media rekreasi bersama keluarga ataupun bersama kekasih, karena banyaknya tawaran yang ditawarkan oleh Alkid ini sendiri kepada masyarakat, seperti jajanan kuliner, acara musik dan pertunjukan serta lain-lainnya dikarenakan Alkid sendiri telah kehilangan filosofinya tersebut dimata masyarakat itu sendiri, bahkan mengalami perubahan makna atau filosofi.

 

INTERPRETASI

Saat ini Alkid menjadi sebuah ruang publik bagi masyarakat luas Yogyakarta, bahkan bukan dari warga Yogyakarta sendiri yang datang guna menikmati suasana disini ada pula warga dari luar Yogyakarta seperti Solo, Semarang, dll yang sengaja datang ke Alkid untuk bersantai bersama keluarga menghabiskan weekend bersama keluarga (karena biasanya pengunjung dari luar kota Yogyakarta berkunjung ke Alkid pada weekend). Berbagai macam kegiatan dapat dijumpai di Alkid Menjelang sore hingga malam hari, Alkid menjelma sebuah tempat rekreasi publik untuk rakyat yang tentunya sayang untuk dilewatkan.

Berbagai makanan jajanan kuliner dihadirkan oleh para pedagang dan dapat dijumpai di Alkid.  Pada pagi harinya Alkid menjadi area olahraga yang diminati oleh masyarakat Yogyakarta serta dijadikan area olahraga dari beberapa institusi pendidikan tingkat SD sampai SMA. Selain itu, pada malam harinya area Alkid ini juga menjadi area wisata untuk semua kalangan dan ada beberapa fasilitas yang dapat menghibur pengunjung yang memang sengaja dihadirkan oleh para pedagang seperti wisata bersepeda, berjajar sepeda tandem hingga becak yang telah dimodifikasi hingga sedemikian rupa dengan hiasan lampu kelap kelip yang mencolok disewakan oleh sejumlah pemilik sewa sepeda.

Di sekeliling Alkid pun sudak tidak ditanami pohon Kweni dan Pakel, hanya ditanami pohon mangga, menurut warga sekitar phon Kweni dan Pakel sudah tidak ditanam semenjak 15-an tahun yang lalu. Kemudian area tanah luas diAlkid sendiri telah menjadi tempat beriklan mengatasnamakan sosial namun tetap saja menawarkan produk yang diiklankan tersebut melalui media acara tersebut, acara yang biasanya diisi dengan berbagai pertunjukan dan lain-lain.

Selanjutnya gedung Sasono Hinggil sering digunakan untuk berbagai acara maupun kegiatan baik umum maupun acara keagamaan.

Pada bagian tengah alun-alun terdapat dua buah pohon beringin yang usianya cukup tua dan keduanya dibatasi oleh pagar benteng yang kokoh. Pohon Beringin ini pun menjadi sebuah obyek permainan yang menarik. Berawal dari kepercayaan masyarakat Yogyakarta tentang orang yang berhasil melewati kedua Pohon Beringin tersebut dengan menutup mata, maka akan dipermudah dalam meraih cita-citanya, maka saat ini banyak wisatawan yang menyempatkan waktu untuk berkunjung mencoba permainan tersebut.

Terdapat kandang gajah di Alun-alun Kidul. Gajah yang berada di dalam kandang ini adalah milik Kraton Yogyakarta. Dahulu gajah ini sering dinaiki oleh anak-anak sebagai sarana hiburan. Tetapi saat ini hiburan ini memang sudah berkurang walaupun istilah kandang gajah masih cukup familiar di telinga masyarakat.

Didalam kawasan Alkid ini sendiri pun banyak objek-objek bersejarah dan berfilosofi yang telah hilang karena tidak dilestarikan dengan baik oleh warga sekitar, seperti Pohon Kweni, Pohon Pakel, Pohon Soka, Pohon Palem Cempora, Pohon Pelem, Pohon Kepel, Pohon Cengkir Gading serta 2 Pohon beringin WOK yang sudah hilang satu yang berada digerbang pintu selatan Alkid.

Letak Alun-alun Kidul yang berada di wilayah selatan Kraton Yogyakarta memudahkan wisatawan untuk berkunjung. Pangunjung hanya perlu menemukan Kraton Yogyakarta dan mengikuti jalan ke arah selatan, maka pengunjung akan langsung menemukan alun-alun Selatan Yogyakarta.

Kebanyakan orang sekarang pun menggunakan Alkid sebatas ruang publik yang dapat dengan bebas digunakan untuk keperluan sehari-sehari mereka, seperti berdagang, beriklan, berpromosi, berolah raga dan sebagainya. Adapun suasana dihari kerja maupun weekend, dihari kerja pun Alkid ramai dikunjungi pangunjung / masyarakat sekitar, dari yang iseng berkunjung maupun berwisata edukasi dikawasan Alkid ini, meskipun kebanyakan pngunjung yang datang keAlkid ini biasanya hanya datang untuk menikmati suasana Alkid saja, dan biasanya Alkid sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung pada malam hari, dan puncak keramaiannya adalah pada saat malam weekend, terutama malam minggu, pengunjung / masyarakat sangat asyik menikmati rekreasi Alkid pada malam hari itu.

Perubahan Arti

Teori : Perubahan arti terjadi bila tanda-tanda dianggap tidak sesuai lagi oleh orang-orang yang menggunakan dalam cara yang berbeda

Alkid telah mengalami perubahan arti dari segi filosofinya dari para masyarakat Yogyakarta sendiri dan dari para pengunjung, yang menyebabkan kawasan ini banyak disalah gunakan oleh para pengunjung itu sendiri, bahkan pengunjung yang berasal dari kota Yogyakarta ini sendiri tidak mengetahui arti dan filosofi kawasan ini sendiri apalagi para pngunjung yang berasal sari luar kota Yogyakarta, mereka hanya mengikuti tradisi yang dilakukan oleh warga kota Yogyakarta pada umumnya tanda mencari atau mempelajari terlebih dulu tentang Alkid ini sendiri.

Alkid memiliki filosofi-filosofi tersendiri yang sebagaimana dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 yang memiliki nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, nerlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam bertingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Namun pada nyatanya sekarang Alkid dijadikan tempat mungkin bertolak belakang dengan apa yang dinasehatkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 kepada para pengunjung.

Adapun Symbol baru yang dijadikan oleh masyarakat Yogyakarta, yang tidak ada pada sejarah, yakni kepercayaan masyarakat Yogyakarta tentang orang yang berhasil melewati kedua Pohon Beringin tersebut dengan menutup mata, maka akan dipermudah dalam meraih cita-citanya, dan berjodoh dengan kekasihnya kelak, kepercayaan ini terus berkembang hingga menarik perhatian wisatawan, padahal Sri Sultan Hamengku Buwono 1 membangun kedua pohon beringin itu tidak untuk tujuan tersebut, memang ada cerita sendiri dalam sejarahnya tentang kepercayaan tersebut, yakni, Dahulu kala ketika sultan hamengkubuwono pertama bertahta, ada sebuah cerita tentang sebuah perkawinan. Putrinya sang sultan itu mau dipinang seorang lelaki, namun sayang sang putri tidak begitu menyukainya. Alhasil sang putri meminta syarat: Jika pengen si pria menikahinya, maka dia harus bisa berjalan dengan mata ditutup (tertutup) dari pendopo yang ada di sebelah utara Alkid melewati dua ringin kembar ditengah alun alun dan finish di pendopo yang ada di sebelah selatan alun alun kidul tersebuh. Dan ternyata siasat sang putri ini berhasil, si pemuda gagal menjalankan misinya.

Kemudian sang sultan memberikan sabdanya bahwa yang bisa melewati syarat sang putri itu, hanyalah pemuda yang hatinya benar benar bersih dan tulus.

Saya tidak mendengar cerita apakah dikemudian hari banyak pemuda yang berusaha melewati pohon beringin kembar itu atau tidak. Yang saya dengar hanyalah bahwa ternyata seorang pemuda dari Siliwangi (katanya anak dari prabu siliwangi) berhasil melewati rintangan yang disyaratkan oleh sang putri. Dan sang putri akhirnya dipersunting oleh pemuda tersebut.

Begitulah menurut cerita, namun pada dasarnya kedua pohon beringin kembar tersebut tidak untuk tujuan tersebut, itu hanyalah kepercayaan baru setelah terbangunnya segala bangunan dikawasan Kraton.

Symbol-symbol kepercayaan zaman dahulu seperti diacuhkan oleh para pengunjung saat ini, sepertinya yang diinginkan dari para pengunjung tersebut adalah sebuah hiburan tanpa melihat nilai-nilai sejarah yang memiliki nilai kependidikan tersendiri serta nasehat Sri Sultan Hamengku Buwono 1 itu sendiri dari  dari tempat wisata ini sendiri (Alkid). Bahkan warga sekitar Alkid ini pun seperti enggan melestarikan apa-apa yang menjadi sejarah didalam Alkid ini sendiri, karena terbukti banyak objek-objek bersejarah di Alkid yang tidak dilestarikan dengan baik, bahkan untuk tahu akan sejarah dari obejek itu sendiri saja banyak warga sekitar Alkid tidak tahu apa-apa tentang sejarah / filosofinya tersebut

 

 

Daftar Pustaka :

http://gudeg.net/id/directory/12/1528/Alun-alun-Selatan-Yogyakarta.html

http://www.wisatanesia.com/2010/05/alun-alun-kidul-yogyakarta.html

http://haqiqie.wordpress.com/2009/11/10/cerita-pohon-beringin-ringin-kembar-alun-alun-kidul-kraton-yogyakarta/

Arti Kraton Yogyakarta, Museum Kraton Yogyakarta,

Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Fredy Heryanto

Pengantar Semiotika - Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, ARTHUR ASA BERGER

 

May Rahmawati

Perempuan bermata empat, teman seperjalananku di Trans Jakarta mengelilingi metropolis ibukota. Perempuan sederhana dengan gaya wanita karir kesenangannya. Ia banyak memberiku pembelajaran tentang rencana - target masa depan dan tekad untuk mewujudkannya.
:D :D :D :D

May Rahmawati

Perempuan bermata empat, teman seperjalananku di Trans Jakarta mengelilingi metropolis ibukota. Perempuan sederhana dengan gaya wanita karir kesenangannya. Ia banyak memberiku pembelajaran tentang rencana - target masa depan dan tekad untuk mewujudkannya.

:D :D :D :D

iBASS - isibasketball

iBASS - isibasketball

DRAWING LOVER #3

DRAWING LOVER #3

"dunia adalah media untuk belajar, bukan untuk sombong…"

Kutipan Sederhana Aditya